Sat. Sep 5th, 2020

“Leadership is a way of thinking, a way of acting and, most importantly, a way of communicating” (Simon Oliver Sinek).

sumber foto: republika.co.id

Simon O. Sinek bukan orang sembarangan. Dia penulis buku laris tentang kepemimpinan dan sekaligus seorang motivator serta profesor di Columbia University. Usianya masih relatif muda, kelahiran 1973. Kalimatnya di atas menggambarkan dengan tepat tentang betapa pentingnya komunikasi bagi seorang pemimpin. Menurut Sinek, dibanding kompetensi yang lain, komunikasi-lah yang terpenting.

Benarkah pendapatnya?

Saya mulai dengan contoh kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Suatu fenomena keren yang dihadirkan Ahok ketika datang dari provinsi kecil – Bangka Belitung – ke kota metropolitan. Dia menggebrak dan menggemparkan politik nasional, serta langsung melahirkan fans kelas berat.

Banyak orang yang menjadikan Ahok sebagai idola baru. Gayanya meledak-ledak, tanpa basa-basi, langsung ke pokok masalah, ‘mbleduk’ di manapun berada. Tak peduli siang atau malam. Tak pandang hujan atau kemarau. Yang benar dikatakan benar, yang salah dikatakan salah. Ucapan dan tindakannya klop. Publik pun terpana. Ahok begitu berbeda.

Dia berhasil menduduki jabatan bergengsi di negeri ini, Wakil Gubernur DKI Jakarta – ibu kota negara – yang mungkin hanya kalah mentereng dari paket jabatan presiden dan wakil presiden. Ahok kemudian dapat durian runtuh, ketika sang Gubernur Jokowi menanggalkan kursinya untuk melompat tinggi ke jabatan presiden.

Ahok menjadi gubernur pertama Jakarta pada era Reformasi, yang berasal dari kaum minoritas – nonmuslim dan Tionghoa – pengamat menyebutnya sebagai double minority. Aksinya makin menjadi-jadi. Ucapannya selalu terbaca dan terdengar menggelegar melalui media massa. Nyaris tiada hari tanpa Ahok di media massa nasional, dan media sosial.

“Saya suka Ahok. Indonesia butuh pemimpin seperti Ahok. Sayang sekali, cara dia berkomunikasi seringkali tidak tepat…” ujar salah seorang dosen ilmu komunikasi, kolega saya di Universitas Indonesia.

“Kenapa?” tanya saya. Sebenarnya saya sependapat dengannya. Bukan hanya dengan sang dosen tersebut saya diskusi tentang cara komunikasi Ahok, melainkan juga dengan beberapa praktisi komunikasi dan PR. Pendapat mereka senada.

“Jika konsultan komunikasinya bisa sedikit mengubah cara komunikasi pak Ahok, wah… sempurna. Komunikasi itu bukan hanya isi, tapi juga cara…” katanya menjelaskan.

Diskusi semacam itu sudah sering kami lakukan jauh sebelum peristiwa “kejatuhan” Ahok, seorang pemimpin yang keluar dari gaya tradisional sebagian besar pemimpin Indonesia. Bahkan kami memperkirakan, “Kalau gayanya seperti ini terus, lawan politiknya lebih mudah mencari celah untuk menjatuhkannya…”  Dan, kemudian prediksi kami terbukti. Ahok “dijegal” karena cara dia berkomunikasi!

Beberapa kalangan yang tidak paham ilmu komunikasi, sering memberikan pendapat yang terdengar sederhana dan seolah benar.

“Lebih baik pintar bekerja, daripada pintar berkomunikasi.”

“Ngapain jago ngomong, tapi omong doang gak ada hasilnya.”

Pada satu sisi, logika pendapat tersebut benar. Tentu saja orang yang bekerja nyata, jauh lebih baik dibanding hanya bicara. Akan tetapi mereka lupa, bahwa yang terbaik adalah bisa bekerja nyata dan mampu dengan baik mengkomunikasikan kerja nyatanya itu kepada orang lain. Lebih lagi pada seorang pemimpin, yang selalu menjadi sorotan anak buah dan juga publik.

Kolega sekaligus guru menulis saya, Masri Sareb Putra, sering mengatakan, “Content is the King…” Saya menambahkan, “And context is the Queen!” Dalam komunikasi, konten dan konteks atau isi dan kemasan itu sama-sama penting.

Jika Anda mengutamakan konten dan mengabaikan konteks, maka sesungguhnya Anda tidak menghargai konten. Kok tega, konten yang bagus tidak dikemas dengan bagus? Dampaknya, beragam.

1.      Konten Anda tidak diketahui oleh orang lain.

2.      Konten Anda disalahartikan oleh orang lain.

3.      Konten Anda tidak diperhatikan oleh orang lain.

Seorang pemimpin itu sendiri adalah konteks. Ketika dia berbicara konten A sebagai seorang pemimpin, maka konteksnya akan menjadi perhatian lebih besar, dibanding konten yang sama diucapkan oleh seorang yang bukan pemimpin.

Jika Anda mengutamakan konteks dan mengabaikan konten, bahasa sederhana yang sering muncul adalah “Ah pencitraan!”  Sesungguhnya, dengan perilaku semacam ini Anda sedang membohongi alam semesta, dan menipu diri sendiri. Anda penjahat! Kok berani-beraninya mengklaim konten buruk sebagai yang terbaik di dunia. Sebagai yang nomor satu di dunia. Dengan konteks yang baik, konten yang tidak baik pun bisa menjadi baik…

Baca Juga: Ketika Ahok Ungkap Keinginannya Jadi Presiden

Itulah sebabnya, konten dan konteks ibarat raja dan ratu, yang harus selalu harmonis. Seimbang. Kondisi terbaik. Itulah mengapa, saya sepakat dengan Simon Sinek. Dalam konteks sebagai seorang pemimpin, kita berasumsi bahwa kontennya pasti bagus, penting, menarik, berdampak… Sayang banyak pemimpin yang mengabaikan cara berkomunikasi, sehingga konten yang bagus itu, seringkali tidak sesuai dengan tujuan komunikasinya. Tidak perlu hebat dan keren, cukup cara yang tepat saja… konteks yang sesuai dengan konten.  

Profesor Harvard Business School, Amy Edmondson dalam buku “Teaming: How Organizations Learn, Innovate, and Compete in the Knowledge Economy” mengulas panjang lebar tentang teamwork sebagai salah satu keterampilan vital pemimpin. Berdasarkan hasil riset sang profesor, ada empat hal yang menyebabkan kegagalan seorang pemimpin.

1.      Tidak mampu menangani masalah.

2.      Gagal menyalakan budaya inovatif.

3.      Tidak terbuka dalam menerima kritik dan saran.

4.      Gagal memberikan motivasi.

Jika ditelaah lebih dalam, ternyata minimal tiga penyebab itu (nomor 2 sampai 4) berkaitan erat dengan kemampuan komunikasi seorang pemimpin. Ingat, komunikasi bukan hanya yang terucap atau tertulis, melainkan segala hal yang keluar dan muncul dari seseorang. Mulai dari sikap, ucapan, tindakan, gerak tubuh, dan bahasa nonverbal lainnya.

Semua itu ditangkap oleh panca indera orang lain, lalu dipersepsikan dan diinterpretasikan. Anda diam pun tetap memancarkan komunikasi kepada orang lain. “Diam berarti setuju…” begitu salah satu kalimat yang sering dilontarkan kepada kita, tatkala menyikapi sesuatu.

Kegagalan seorang pemimpin masa lalu mungkin lebih sering karena wanita. Banyak kisah yang dapat kita pelajari. Namun, di era modern ini, kegagalan seorang pemimpin seringkali karena ketidakmampuannya berkomunikasi, khususnya cara berkomunikasi. Hal yang sering disebut sebagai kemasan, konteks, atau the queen. Ah wanita juga…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dodi Mawardi © 2019