Dulu, Bung Karno kira-kira pernah mengatakan begini:
“Suami istri itu seperti sepasang sayap burung. Jika salah satu sayapnya patah, maka burung itu tidak bisa terbang. Begitu pula seorang suami, tanpa istri dia tak bisa apa-apa.”
Saya mengibaratkan menulis seperti sayap burung. Siapa pasangan menulis? Tidak lain dan tidak bukan adalah membaca. Tanpa membaca, maka seseorang tidak akan bisa menulis. Menulis dan membaca, satu kesatuan yang utuh.
Proses kreatif saya dalam menulis tidak bisa lepas dari membaca. Bahkan, awal mula setiap proses penulisan – menulis apa pun itu – adalah membaca. Buat orang yang bukan lagi dalam level awam, membaca bukan sekadar mencernai kata dan kalimat tersurat. Juga tersirat. Juga bukan hanya di dalam buku. Atau di media daring. Membaca alam semesta, demikian intinya. Apa pun yang dilihat, didengar, dirasakan, dialami, bisa jadi bahan bacaan. Sebagai sumber awal dari menulis.
Selama kita masih memiliki panca indera, lengkap atau tidak dan masih bernapas, setiap kita dapat menulis. Bahannya sudah tersedia. Tinggal mengalihkannya saja dari mulut ke tangan. Dari suara menjadi tulisan. Dari rasa menjadi deretan kata pada media apa pun; Batu, lontar, kertas, komputer, laptop, atau telepon genggam. Coba cek panca indera Anda! Masih lengkap? Berarti Anda bisa menulis.
Saya suka membaca. Saya wajib membaca. Saya rutin membaca. Dia adalah bahan baku utama tulisan. Maka, sesuai perintah dalam agama saya, bacalah! Dengan membaca, Anda bisa menulis. Sewaktu kecil, saya mengalami kekurangan bahan bacaan. Juga minim dorongan dari keluarga untuk membaca. Kecuali membaca kitab suci. Wajib setiap hari.
Dorongan membaca lahir dari rasa ingin tahu yang tinggi. Dan minat. Saya baca seluruh buku pelajaran sejak SD, SMP, sampai SMA. Semua mata pelajaran. Satu buku dibaca berulang. Baik yang naskahnya enak dibaca atau yang enek dibaca. Tidak pernah bosan. Sejak kecil, saya juga hobi membaca koran, lebih tepatnya koran bungkus kacang.
Setiap kali disuruh ke warung oleh Emak (ibu saya), rasa senang menjalar. Akan mendapatkan kertas koran sebagai bungkusnya: bisa saya baca. Meski selalu menggantung. Cerita yang tidak pernah tuntas. Kadang tanpa awal cerita atau tanpa akhir. Lebih sering tidak ada awal dan tiada akhir. Namanya juga sobekan koran.
Menjelang remaja, saya langganan koran. Hanya seminggu sekali, sesuai ketersediaan uang jajan. Yang disisihkan. Kompas setiap Jumat. Pada hari Jumat, koran terbesar di Indonesia itu menyisipkan tabloid Bola sebagai bonus. Sekaligus promosi tabloid khusus olahraga itu. Buat saya seperti beli satu dapat dua. Begitu sudah mandiri, tabloid Bola tidak lagi jadi sisipan Kompas. Saya pun hanya berlangganan Bola. Selanjutnya, tetap sekali dalam sepekan. Saya baca selama sepekan pun sampai terbitan berikutnya datang. Berulang. Satu artikel bisa dibaca dua sampai tiga kali, karena saya memang penggemar olahraga khususnya sepakbola.
Saya hapal semua nama pemain sepakbola, dalam dan luar negeri. Nama klub sepakbola dalam dan luar negeri serta kota tempat asalnya. Terutama di Eropa. Saya tahu nama seluruh klub basket NBA dan para bintangnya. Juga kota-kota asal klub tersebut. Saya paham segala jenis cabang olahraga. Tahu nama dan wajah pemain tenis dunia, pegolf papan atas, pecatur lokal serta internasional, dan olahragawan terkenal lainnya. Saya hapal atlet Indonesia peraih medali emas Olimpiade, Asian Games, dan Sea Games bahkan PON. Tumpukan koran bekas tabloid Bola itu lalu saya kliping dalam buku tulis. Berkreasi dengan goresan pulpen sendiri. Mirip seperti kegiatan menata letak buku (lay out) zaman kiwari. Dulu hanya gunting dan lem plus pena, kini sudah menggunakan adobe indesign.
Kebiasaan membaca itu bertuah. Ketika ada kesempatan menulis, saya sudah punya bahan. Tentang olahraga khususnya sepakbola. Tentang ilmu pengetahuan populer, karena saya juga pehobi baca buku HPU (Himpunan Pengetahuan Umum) atau RPU (Rangkuman Pengetahuan Umum) atau Buku Pintar-nya Iwan Gayo. Saya bisa menulis topik apa pun berkaitan dengan pengetahuan umum seperti nama ibukota negara, provinsi, nama pulau, nama sungai, selat, laut, gunung tertinggi, mata uang, organisasi PBB, dan sebagainya.
Saya menikmati proses membaca. Setiap kali menulis sebuah buku, baik buku sendiri maupun buku pesanan, saya selalu melengkapinya secara senang hati dengan bahan bacaan. Era sekarang sangat mudah mendapatkan referensi, baik berupa buku maupun bahan bacaan lainnya. Buku elektronik berserak di mana-mana. Artikel bermutu pun ada di mana-mana. Pun jurnal ilmiah, kita bisa mendapatkannya dengan mudah, baik melalui berlangganan maupun gratisan. Setiap satu buku yang ditulis maka 20 – 40 bahan bacaan (termasuk buku) selalu menjadi referensi, penguat isi atau sekadar sebagai background.
Menulis dan membaca seperti dua sisi mata uang. Uang berapa pun harganya tidak bernilai jika hanya ada satu sisi yang berupa, sisi lainnya kosong. Tulisan Anda akan banyak bohong dan bolongnya jika tidak disertai hasil bacaan yang memadai. Saya ingat tulisan seorang novelis dan cerpenis Amerika Serikat John Cheever, “I can’t write without a reader. It’s precisely like a kiss—you can’t do it alone.” Ia mengibaratkan menulis seperti mencium seseorang. Dan seseorang itu adalah membaca. Anda tidak bisa mencium bayangan!
Proses menulis itu tidak bisa lepas dari kebiasaan membaca. Para penulis pasti membaca. Membaca buku. Membaca kehidupan. Membaca alam semesta. Jika kita ingin mampu menulis, tak bisa tidak, membacalah. Seperti burung, jika mau terbang harus memiliki sepasang sayap. Terbanglah Anda setinggi mungkin dengan sepasang sayap: membaca dan menulis!
Catatan:
Naskah ini merupakan salah satu bagian dari Buku “Proses Kreatif Tiga Penulis Profesional” karya Masri Sareb Putra, Pepih Nugraha, dan Dodi Mawardi. Ketiga penulis ini sudah lama malang melintang di industri penulisan dan dipercaya banyak kalangan untuk membukukan beragam tema dan topik.

Jika berminat buku tersebut, hubungi 0812-8587-4272 atau email: sekolahmenulis@gmail.com