Menuju Kawasan Perbatasan Indonesia – Malaysia

Impian menjadi kenyataan. Sudah beberapa kali dapat cerita tentang eksotisnya Krayan. Daerah terpencil yang tak mudah dijangkau di perbatasan Kalimantan Utara dengan Malaysia. Krayan berada di bawah otoritas Pemkab Nunukan. Di sana terdapat lima kecamatan hasil pemekaran dari Krayan Induk.

Cerita eksotis Krayan dimulai oleh kegiatan literasi keluarga besar Tipa Padan. Tak mudah membayangkan keluarga di pelosok itu melek literasi. Sungguh, tak mudah. Bagaimana mungkin warga di lokasi yang akses transportasinya hanya melalui udara punya semangat literasi begitu tinggi? Mengalahkan sebagian besar warga kota? Faktanya demikian. Mereka berhasil menerbitkan buku melalui penerbit Gramedia dan mendapatkan Rekor MURI.

Mereka belajar menulis dan menerbitkan buku di kawasan yang sunyi, teduh, damai, dan menenteramkan hati. Di suatu pondok (dinamai Pondok Biru) di tengah padang ladang yang dikelilingi hutan belantara Borneo, sedikit di luar kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang. Satu-satunya kawasan di Borneo, yang hutannya masih amat perawan.

Sungguh, menulis di kesunyian adalah situasi idaman sebagian besar penulis. Termasuk saya. Ketika mendengar cerita itu, dalam hati bertekad, “Suatu hari harus ke sana!”

Manakala Dr. Yansen TP., Bupati Malinau yang baru saja memenangkan Pilkada Kaltara sebagai Wagub terpilih, mengajak ke sana, tak ada jawaban lain kecuali menganggukkan kepala dalam-dalam. Ya, impian akan segera menjadi kenyataan. Membayangkan berada di tengah kesunyian hutan sebagai suatu kemewahan. Apalagi tak mudah untuk sampai di sana.

Selasa, 15 Desember 2020, kami (Pepih Nugraha, Saptono Rahardjo, dan saya) terbang ke Malinau Kaltara memenuhi undangan pak Yansen. Kawan penulis senior kami, Masri Sareb Putra menyusul keesokan harinya. Rabu siang itulah setibanya pak Masri, kami melanjutkan terbang ke Krayan.


Jarak Malinau – Krayan versi garis lurus Google Earth tak lebih dari 125 km. Melalui jalur darat, jarak yang ditempuh sekitar 220 km. Jarak itu dihabiskan pesawat jenis Kodiak milik maskapai MAF berkapasitas 8 orang, selama 25 menit saja.

Jika lewat darat, waktu yang dihabiskan berkisar antara sepekan sampai tiga pekan. Tergantung jenis kendaraan yang digunakan. Anda tak salah baca. Waktu tempuh jalur darat bisa hampir satu bulan. Silakan bayangkan betapa beratnya jalur darat. Padahal jika kondisi jalan normal, mungkin hanya perlu waktu empat jam saja.

Saya sudah berkali-kali berkunjung ke Malinau, suatu kabupaten yang baru berusia sekitar 20 tahun. Sebagian wilayah Malinau pun berbatasan dengan Malaysia. Saya sudah pernah juga melintas batas patok Indonesia – Malinau di kecamatan Kayan Selatan. Bercengkrama dengan tentara Diraja Malaysia yang berjaga di sana. Tentu, saya juga ditemani tentara Indonesia yang bertugas di tapal batas yang waktu itu di bawah komando pak Dandim Letkol Agus Bhakti (sekarang sudah Kolonel).

Namun, baru kali inilah saya akan menginjakkan kaki di Krayan… Kecamatan di Nunukan Kalimantan Utara yang dikenal keindahan alamnya, beras Sultan-nya, dan garam gunungnya. Dataran tinggi di perbatasan Indonesia dan Malaysia.

Pesawat yang kami tumpangi dari Malinau ke Krayan kecil mungil. Lebih kecil dibanding pesawat jenis Cessna milik Susi Air yang beberapa kali menerbangkan saya dari Malinau ke Tarakan atau sebaliknya. Jenis pesawat milik MAF (Mission Aviation Fellowship) ini adalah Kodiak. Pesawat bermesin tunggal besutan pabrik Quest di Amerika Serikat. Di Indonesia hanya ada beberapa gelintir Kodiak. Ingat bukan Kodak ya – kamera buatan Jepang yang sudah almarhum itu. PT. Dirgantara Indonesia punya Kodiak yang selalu bertugas menemani purwarupa N-219 uji coba terbang.


Kang Pepih Nugraha menyebut pesawat ini ibarat mikrolet, angkutan umum di ibukota Jakarta. Ukurannya memang setara. Bahkan jumlah penumpang mikrolet lebih banyak dibanding Kodiak. Mikrolet bisa muat 12 penumpang. Kalau dijejalkan bisa 14 orang. Dua orang di samping sopir. Nah, Kodiak ini hanya mampu mengangkut 9 orang, termasuk pilot dan co-pilot.

Sebelum terbang, kami berenam (pak Wagub terpilih Dr. Yansen TP., satu staf beliau, dan kami empat anggota tim literasi) ditimbang badan serta barang bawaan. Berat total kami tak boleh melewati angka yang sudah ditetapkan. Saya terberat kedua setelah pak Wagub. Namun begitu melihat kapten pilot yang WN Amerika Serikat, saya tersenyum geli sendiri. Saya duga berat badannya tak kurang dari 100 kg. Posturnya tinggi dan besar, khas orang bule penuh gizi.

Namanya Craig Hollander, sudah 18 tahun tinggal di Tarakan bersama istri dan anaknya. Selama itu pula dia bekerja melayani penerbangan di Kalimantan Utara.

“Memang di Amerika bisa dapat lebih banyak uang,” katanya, “tapi saya merasa lebih bahagia di sini.” Kalimat reflektif yang sedikit menampar perasaan. Dia didampingi co-pilot muda bernama Ian, yang untungnya, berberat badan kebalikan dari Craig. Lebih ringan dibanding saya-lah. (Btw, berat badan saya 80 kg).

Pesawat pun mengudara meninggalkan Bandar Udara R.A. Bessing selepas tengah hari. Cuaca cerah dan panas. AC pesawat sedikit mengurangi panasnya udara, meski tak sesejuk pendingin Boeing 737 NG atau Airbus A330. Pemandangan Malinau dari udara perlahan kami tinggalkan. Hamparan kota kecil dengan ribuan bangunan yang dibelah sungai besar Sesayap terlihat kian mengecil. Di depan kami, kelompok-kelompok awan siap menghadang. Di baliknya tampak berderet bukit yang dipenuhi pohon hijau. Kami akan melewatinya. Di balik bukit-bukit itulah katanya, Krayan berada.

Kodiak meliuk-liuk menghindari awan. Craig dan Ian tampak sudah sangat terbiasa menjelajahi wilayah udara Kaltara ini. Pesawat bertenaga 750 kuda ini memang tak bisa terlalu tinggi. Maksimal hanya 3,9 km di atas permukaan laut. Lebih dari itu, kami bisa hilang kendali ke luar angkasa hehe. Atau kembali menukik ke bumi.


Kemampuan menghindari awan dan tetap menjaga ketinggian menjadi tantangan tersendiri. Saya duduk persis di belakang kursi pilot. Kadang membayangkan berada di kemudinya, dan berimajinasi mengendalikan pesawat seperti pada permainan PS3 Grand Theft Auto.

Kata Craig, selama penerbangan Malinau – Krayan pesawat rata-rata berada pada ketinggian 8.000-an kaki atau 2.500 m di atas permukaan laut. Dengan ketinggian itu, pesawat akan terhindari dari puncak bukit dan pegunungan yang sebagian besar tingginya sekitar 1.000 – 2.000 m. Bayangkanlah pesawat ini menerobos sela-sela awan dan pegunungan di bawahnya yang berlapis-lapis. Saya tak mampu menghitungnya saking banyaknya bukit. Sambung menyambung tak terputus. Hijau royo-royo (moronyoi – dlm bhs. Sunda). Berbaris kokoh menancap di perut bumi laiknya serdadu yang siap sedia menjaga keutuhan NKRI.


Tampak setiap bukit dan pegunungan itu didekap oleh beberapa gerombolan awan. Nyaris tak ada satu pun bukit yang dibiarkan sendiri dan kesepian. Mereka seperti sepasang kekasih atau sekeluarga besar: bukit, pegunungan, dan awan. Di kanan, kiri, depan, dan belakang tak ada pemandangan lain kecuali bukit, pegunungan dengan rimbunnya pohon, dan awan. Banyak sekali. Dalam beberapa menit tak ada habisnya.



“Kita sudah lewati perbatasan Malinau – Nunukan,” terdengar suara lantang pak Wagub memberikan informasi yang memang saya perlukan di sela raungan keras mesin Kodiak. Saya pikir akan segera mendarat. Akan tetapi pemandangan keluarga awan dan pegunungan justru menjadi-jadi. Makin banyak. Kami seperti disambut keluarga awan.

Pemandangan luar biasa yang tak akan saya lupakan pun hadir. Sebuah lengkungan pelangi seperti menempel antara deretan awan yang kelabu dengan kaki bukit. Nampak jelas dari sisi kanan Kodiak, tempat saya duduk. Biasanya melihat pelangi dari bawah. Ternyata sensasinya berbeda menatapnya dari ketinggian. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu tampil memikat sebagai pertanda perpaduan antara cahaya matahari dan udara berair di situ.


Belum lepas dari pelangi pertama, tampak lagi pelangi kedua setelahnya. Hanya selisih beberapa bukit saja. Kekaguman menjadi-jadi. Saya teringat kover buku “Kaltara Rumah Kita”, karya pak Wagub yang menampilkan foto sebuah lapangan di Krayan dengan latar belakang pelangi. Terbukti, foto itu benar adanya. Sudah dua pelangi di Krayan menyambut kami.

Akan tetapi ternyata sambutan itu belum cukup. Setelah lewat pelangi kedua, tampak pula pelangi ketiga di kejauhan di sudut kaki bukit yang berbalut awan. Meski samar, namun jelaslah dia  pelangi. Perpaduan warna indah beraneka rasa itu menjadi sambutan terbaik yang pernah saya terima, dalam mengunjungi suatu daerah. Ibarat adegan pembuka dalam suatu film, cerita selanjutnya pasti lebih menarik. Terbayang dalam kepala adegan tiga menit pembuka dua film kesukaan saya: Indiana Jones dan Jurassic Park…

(bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dodi Mawardi © 2019