Malu. Sesungguhnya saya malu. Banyak daerah lain yang mengaku lebih modern; Mengaku lebih maju dan sejahtera; Mengaku lebih berbudaya dan beradab; Mengaku lebih intelektual; ternyata kalah ‘hebat’ dibanding kabupaten yang terletak di perbatasan dengan Malaysia dalam hal literasi. Literasi adalah salah satu tolok ukur kemajuan budaya, intelektual, dan peradaban suatu bangsa.

Jengah. Sesungguhnya saya jengah. Banyak daerah yang pemimpinnya tak peduli dengan pendidikan; Banyak pemimpinnya yang hanya sibuk dengan kepentingan diri dan kelompoknya; Banyak pemimpinnya yang terjebak dengan rutinitas; Banyak pemimpinnya yang masih mabuk kekuasaan; Tapi lupa membangun salah satu dasar dari pendidikan, yaitu literasi.

Saya sarankan Anda, hai para pemimpin negeri, belajarlah ke Kabupaten Malinau Kalimantan Utara. Sang pemimpin di sana, seorang bupati yang mengucapkan apa yang dipikirkannya, menjalankan apa yang diucapkannya, dan menuliskan apa yang dijalankannya. Dia tahu persis apa yang dilakukannya, dan dia jadikan (tuntaskan) semua yang dilakukannya. Termasuk dalam hal literasi.

Sejak 2011, ketika Dr. Yansen Tipa Padan, MSi., pertama kali menjabat sebagai Bupati Kabupaten Malinau, dia sudah mencanangkan program Gerakan Desa Membangun (GERDEMA). Suatu program pembangunan yang mengutamakan peran masyarakat dalam mewujudkannya. Bukan hanya sampai level desa, namun sampai ke tingkat  RT. Konsep yang berkebalikan dengan program pembangunan nasional, yang selalu top down. Konsep Gerdema awalnya ditertawakan dan dianggap sebagai suatu mimpi di siang bolong (utopi). Lihatlah sekarang…

Malinau-lah kabupaten pertama yang mampu memberdayakan aparatur desa mengelola dana desa dengan baik. Nyaris tak ada penyelewengan. Sebelum program Gerdema, perangkat desa diberikan pelatihan khusus lalu dapat pendampingan dalam menjalankan tugasnya, termasuk untuk mengelola dana desa.

Konsep Gerdema mencakup semua bidang kehidupan di Malinau, termasuk dalam literasi. Kabupaten yang sebagian besar desanya masuk kategori terpencil ini, mampu menunjukkan dan membuktikan diri sebagai kawasan yang semangat literasinya tinggi. Bupati Malinau Dr. Yansen Tipa Padan, menjadi lokomotif dalam menyemangati warganya melek baca dan melek menulis.

Pertama, dia menuliskan program pembangunannya dalam buku. Buku “Revolusi dari Desa” berisi program Gerakan Desa Membangun (Gerdema). Buku “Revolusi RT” berisi pengembangan Gerdema yang lebih fokus lagi sampai level RT. Kedua buku tersebut diterbitkan oleh penerbit Elexmedia Komputindo (Grup Gramedia). Ketika Yansen berbicara tentang literasi, dia tak hanya ngomomg, tapi sudah punya bukti. Lebih meyakinkan. Setiap orang yang mau tahu program pembangunan Malinau, baca saja buku itu. Teori yang sudah menjadi kenyataan.

Kedua, mendorong setiap desa memiliki perpustakaan. Malinau sudah mengucurkan dana ke desa, beberapa tahun sebelum program serupa dari pemerintah pusat. Pada periode kedua 2016-2021, setiap desa mulai melek literasi. Perpustakaan desa pun terbangun. Setiap tahun mereka menganggarkan pembelian buku untuk perpustakaannya. Saya tak yakin desa di luar Malinau menganggarkan dana desanya untuk buku!

Ketiga, mendorong masyarakatnya untuk menulis. Saat ini, menjelang berakhirnya periode kedua, bupati bergelar doktor itu semakin gencar menyemangati masyarakat Malinau menulis. Dia mulai dari keluarganya.

Sebuah buku berhasil diluncurkan berisi tulisan 31 anggota keluarga besarnya, pada 12 Januari ini. Selama dua hari 10 dan 11 Januari, dia menyelenggarakan pelatihan menulis untuk masyarakat Malinau. Tidak main-main, pak Bupati mendatangkan pelatih menulis dari Jakarta yang sudah punya pengalaman segudang. Pelatihannya juga dilengkapi oleh yoga dan motivasi. Lengkap.

Pelatihan Menulis Dilengkapi Yoga

Pelatihan menulis diserta yoga? Bisa. Bahkan sangat bagus. Setiap orang yang mau menulis pasti butuh kebugaran tubuh. Yoga mampu menjadikan seseorang menjadi bugar. Menulis juga membutuhkan konsentrasi dan fokus pikiran. Yoga mampu menjadikan seseorang lebih fokus dan konsentrasi. Penulis juga butuh kreativitas. Yoga mampu membuat seseorang relaks sebagai salah satu syarat lahirnya kreativitas.

Belum banyak pelatihan menulis yang melibatkan yoga di dalamnya. Dr. Yansen T.P., menjadi pelopor pelatihan menulis yang disertai oleh yoga. Instrukturnya berasal dari Indonesia Yoga School (IYS) Jakarta — Emma Rachmayanti. Sebagian besar peserta baru pertama kali mengenal yoga, dan baru pertama kali pula menggerakkan tubuhnya dengan metode yoga. Mereka sangat antusias.

Pelatihan berlangsung selama dua hari di pusat pelatihan Bang Abak, Malinau Kalimantan Utara. Pemerintah pusat mengkategorikan Malinau sebagai wilayah terpencil. Suatu hal luar biasa, sebuah pelatihan menulis diserta yoga terselenggara di sana.

Selain yoga, para peserta juga mendapatkan semangat melalui sesi motivasi. Bukan sembarangan motivasi karena dibawakan langsung oleh motivator nasional Saut “Mr. Spirit Indonesia” Sitompul. Saut adalah ahlinya di bidang etos kerja. 

Hadir sebagai pembicara Masri Sareb Putra – penulis putra asli Dayak, Dodi Mawardi – penulis buku laris Belajar Goblok dari Bob Sadino, dan Saptono Raharjo — Chief Editor Bhuana Ilmu Populer (BIP) penerbit Gramedia Grup.  

Peserta pelatihan berasal dari beragam kalangan di Malinau mulai dari siswa SMA/SMK, para guru, karyawan, sampai ASN dan pejabat pemerintah Kabupaten Malinau. Bahkan Bupati dan Sekda Malinau pun ikut serta. Bupati Malinau tampil sebagai inspirator buat para peserta. Dia hadir penuh selama dua hari dan tak henti-hentinya memberikan inspirasi kepada seluruh peserta. 

Buku Karya Bupati Malinau

Bupati Pelopor Literasi

Sang Bupati memang pegiat literasi. Pejabat langka. Giat membaca, menulis, mengajak warganya menulis, dan mencerahkan orang lain lewat buku. Handoko Widagdo, pegiat literasi di Kaltara menilai, warga Malinau beruntung punya bupati seperti Yansen. Semangatnya melampaui para pejabat lain di seluruh Indonesia dalam hal literasi. Handoko berpendapat, Malinau unggul dalam hal semangat literasi.

Para peserta ternyata punya motivasi tinggi dalam mengikuti pelatihan ini. Mereka ikut bukan karena tugas atau perintah. Beberapa siswa SMAN 1 Malinau bahkan sudah memiliki ide tulisan yang luar biasa, dan tak terpikirkan oleh kebanyakan orang seusianya. Misal Membentuk Malinau Incorporation. “Kalau Indonesia bisa membuat Indonesia Incorporation, Malinau juga pasti bisa,” kata siswa kelas 10 itu. Satu peserta lagi punya ide “Mencetak Manusia Malinau sebagai Pancasila Berjalan…” Ide peserta lain pun tak kalah keren. Semuanya didasari oleh semangat membangun Malinau.

Luar biasa… Begitu komentar para pelatih dan mentor menanggapi ide peserta. “Itu ide yang beyond dari usianya, dari kita semua. Lompatan pikirannya jauh sekali,” kata Sapto Raharjo. Sebagai pembicara sesi terakhir dari pelatihan, Sapto menjanjikan peserta dapat menerbitkan bukunya lewat grup Gramedia

Lokasi boleh terpinggir dan terpencil, tapi semangat literasi mereka, beberapa langkah di depan.

Jangan malu untuk belajar ke sana atau mencontek gebrakannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dodi Mawardi © 2019