Sun. Sep 13th, 2020

Jam 6 pagi, saya sudah berdiri di pinggir jalan. Kadang sudah mandi, lebih sering belum. Ibu saya tak pernah tahu, kenapa setiap hari Minggu pagi saya bergegas ke jalan depan rumah. Mungkin sampai sekarang. Saya menantikan lambaian tangan seorang presiden…

Kebiasaan itu saya lakukan selama bertahun-tahun, sejak kelas 1 sampai kelas 6 SD. Jarak dari rumah ke jalan, sekitar 100 meter saja. Dekat. Rumah saya masuk gang selebar satu kendaraan roda empat. Persis di samping sebuah sekolah dasar inpres. SD tempat saya belajar sampai lulus. Saya kecil, selalu berharap bisa mendapatkan lambaian tangan seorang presiden, yang rutin melewati jalan depan rumah. Presiden Soeharto…

Saya tumbuh sebagai anak kecil sampai remaja di suatu desa di Ciawi, Kabupaten Bogor. Banjarwaru, nama desa itu. Konon nama desa ini diambil dari nama seorang leluhur orang pertama yang berdiam di situ, berasal dari Banjar. Entah berasal dari Kabupaten Banjar, atau dari Suku Banjar di Kalimantan, atau dari Banjar lain. Kami menyebutnya Mbah Banjar. Nama desa tetangga juga berawalan Banjar, Banjarsari dan Banjarwangi.

Wilayah desa saya ini, dibelah suatu jalan kampung berusia ratusan tahun, yang menghubungkan berbagai desa lain di kaki Gunung Gede dan Pangrango, ke kota kecamatan Ciawi. Jalan ini kemudian beraspal bagus, sejak Presiden Soeharto membangun peternakan sapi yang terkenal sejagat – saat itu – Tri S, di Tapos, pada awal tahun 1970-an. Tapos adalah ujung dari jalan kampung. Lokasinya berada di suatu perbukitan, paling tinggi dibanding lokasi lain di sekitarnya. Tak salah jika disebut sebagai anak atau cucu Pangrango dan Gede. Berudara sejuk, dan pemandangannya luar biasa. Deretan gedung-gedung pencakar langit di Jakarta, samar-samar dapat terlihat dari sini.  

Pak Harto rajin berkunjung ke Tapos. Konon kabarnya, memang hobi pak Harto beternak dan bertani. Namanya juga hobi, pasti akan dilakukan di sela-sela kesibukan. Bahkan, kalau sudah sangat hobi, justru kesibukan kerja yang dilakukan di sela-selanya. Pak Harto juga senang mengajak tamu-tamu kenegaraan bertandang ke peternakan itu. Saya baru tahu kemudian – setelah dewasa – bahwa  peternakan sapi itu menghasilkan sapi-sapi bibit unggul hasil persilangan dari sapi jenis Brangus, berasal dari Australia. Bibit sapi unggul itu kemudian disebar ke berbagai daerah untuk diternakkan.

Berkah dari Peternakan Tapos

Karena sering berkunjung ke Tapos inilah, desa tempat tinggal saya ketiban banyak untung. Mungkin juga wilayah lain di seluruh Ciawi. Persis di seberang gang rumah, berdiri Balai Penelitian Ternak (Balitnak), gabunngan dari dua lembaga penelitian peternakan. Kami lebih suka menyebutnya BPT. Luasnya sekitar 23 hektare. Pada awalnya, lembaga pemerintah yang berada di bawah Departemen Pertanian ini, mempekerjakan para ahli dari luar negeri, khususnya dari Australia. Uwak saya menjadi pegawai di sini sampai pensiun. Banyak tetangga juga yang bekerja di sana. Bibi saya dapat jodoh pekerja yang membangun gedung-gedung Balitnak.

Ketika saya remaja, BPT menjadi salah satu tempat bermain favorit. Main layangan, main sepakbola (karena rumputnya bagus, walau kadang diusir pak satpam), main sepeda, main perang-perangan, dan sebagainya. Kadang, pada waktu senggang juga bisa menikmati deretan gedung di Jakarta, sambil duduk santai di lapangan rumput. Tentu ketika cuaca cerah. Mungkin saja karena sering melihat Jakarta itulah, kemudian ketika dewasa beberapa kali saya bekerja di gedung tinggi di ibu kota.

Keuntungan lain berkat kehadiran peternakan Pak Harto di Tapos adalah jalan kampung kami yang sangat mulus. Aspalnya maknyusss. Tak boleh ada kesempatan berlubang. Pasukan pembetul aspal selalu sigap, memperbaiki kerusakan terutama pada musim hujan. Pak Harto pasti tidak akan memberikan toleransi kepada anak buahnya jika iring-iringan kendaraannya terganggu lubang. Harus mulus.

Konon, kehadiran jalan Tol Jagorawi, juga karena keberadaan peternakan Tapos. Jalan tol pertama di Indonesia, yang menentukan lokasinya adalah presiden. Mungkin karena frekuensi kunjungan beliau yang makin sering ke Tapos, jalan tol akan mempermudah perjalanan. Dan demikianlah faktanya. Sebelum ada Jagorawi, kami harus melewati jalan berliku dan beraspal apa adanya, untuk mencapai Jakarta. Butuh waktu rata-rata sekitar tiga jam. Paling hebat dua jam. Begitu Jagorawi resmi dibuka, cussss… hanya 30 menit sudah sampai di Cililitan, Jakarta Timur. Pak Hartolah orang pertama yang menikmatinya. Kami kemudian…

Masih ada berkah lain kehadiran peternakan Tapos buat kami. Selama masa SMP, saya dan kawan-kawan sekelas – dan mungkin anak-anak sebaya lainnya – memiliki tempat wisata murah meriah. Kami memang tak bisa masuk dengan leluasa ke Tri S. Penjagaannya sangat ketat. Namun, di balik perbukitan peternakan itu terdapat tempat pelesiran nonformal. Tidak ada penyedia jasa wisata di sana. Kami sendirilah yang menjadikannya sebagai lokasi piknik favorit. Kami bisa menikmati indahnya Gede Pangrango dari dekat. Menghirup udara segar yang keluar dari ribuan pohon rimbun di sekitarnya. Bermain air jernih nan sejuk dari sungai alami. Kadang mencoba mendaki Gede Pangrango melalui lereng-lereng terjal di kaki-kakinya. Tak sampai ke puncak, hanya sebatas ‘lutut’ gunung.

Kenangan masa SMP itu masih membekas hingga kini. Setiap kali reuni atau sekadar kumpul-kumpul teman SMP, maka wisata ke Tapos menjadi salah satu tema pembahasan. Kami berwisata ke sana nyaris setiap akhir pekan! Kini, di daerah itu sudah berdiri beberapa vila milik orang Jakarta.

Hanya Lambaian Tangan

Oh ya kembali ke memori masa kecil saya di pinggir jalan. Apakah saya mendapatkan lambaian tangan Pak Harto? Sungguh, saya dan teman-teman sebaya di kampung sangat beruntung. Meski kami berasal dari keluarga pas-pasan, tapi kami berkesempatan mendapatkan lambaian tangan seorang presiden. Hanya lambaian tangan.

Puluhan kali saya (kadang sendiri, kadang bersama kawan) berdiri di pinggir jalan, menanti kedatangan iring-iringan mobil Pak Harto. Beberapa menit sebelum rombongan melintas, terlebih dahulu ada polisi yang berpatroli. Mereka mengosongkan jalan, dan pinggir jalan. Tak boleh ada orang dewasa yang berdiri di pinggir jalan. Apalagi hanya iseng-iseng meminta lambaian tangan seperti saya. Polisi membiarkan kami – anak-anak – tetap berdiri, setiap kali Pak Harto lewat.

Dari puluhan kali menyaksikan rombongan mobil presiden lewat, seingat saya, pernah sekali pak Harto melambaikan tangannya. Semoga ingatan saya bagus. Saya tak ingat apakah beliau membuka kaca jendela atau tidak. Yang pasti saya menyaksikan tangannya melambai ke arah saya. Senangnya bukan main. Kami, anak-nak kampung yang selalu setia menantikan presidennya lewat dan mendapatkan sapaan hangat berupa lambaian tangan. Setiap kali ngerumpi bersama kawan sebaya, hal itu menjadi bahan cerita.

Alam bawah sadar saya menampung momen itu sebagai salah satu yang paling berkesan. Teringat sampai sekarang. Lambaian tangan seorang presiden. Hanya lambaian tangan. Bagaimana kalau jabat tangan? Bagaimana kalau presiden turun lalu mengajak berbicara? Bagaimana kalau presiden mendatangi rumah sempit kami?

Saat ini pun, pasti banyak orang di berbagai pelosok negeri, yang menantikan perhatian seorang pemimpin. Pemimpin yang mau turun ke masyarakat dan benar-benar memperhatikan urusan mereka. Kepala desa yang peduli, bupati atau walikota yang mau mendengarkan, gubernur yang bergerak setiap waktu, dan presiden yang menggenggam kekuasaan semata untuk rakyat.

Tentu saja, bukan sekadar lambaian tangan… karena rakyat bukan anak kecil lagi!  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dodi Mawardi © 2019