Jurus Menulis ala Penyiar Radio

Enak ya mendengarkan celoteh penyiar radio. Apalagi pada jam-jam setelah bekerja, malam hari. Seperti ngobrol berduaan. Sangat personal. Mereka menggunakan gaya bahasa lisan, bahasa percakapan sehari-sehari, sesuai dengan segmen pendengar. Kebanyakan radio seperti itu. Ada beberapa radio yang meski bahasa lisan, tapi sangat formal. Contoh RRI.

Pada industri radio terdapat para penulis, yang bertugas menyiapkan naskah untuk penyiar. Tidak jarang, posisi itu dirangkap oleh penyiar sendiri. Tidak semua yang diucapkan penyiar sekadar cuap-cuap saja. Sebagian justru wajib ditulis terlebih dahulu, untuk disampaikan kepada pendengar. Itulah sebabnya di perguruan tinggi yang membuka jurusan penyiaran terdapat mata kuliah penulisan naskah radio.

Dalam penulisan naskah ini dikenal istilah WRITE THE WAY YOU TALK (WtWYT) atau tulislah seperti cara Anda bicara. WtWYT berarti menulis persis seperti kita berbicara! Formula ini khusus dirancang sebagai salah satu cara menulis naskah radio yang paling efektif. Dengan menggunakan WtWYT, kemungkinan besar Anda akan terhindar dari kekeliruan, menghilangkan ketidakjelasan, dan bahkan bisa memastikan keakuratan data. Sesungguhnya, WtWYT berisi tahap-tahap menulis yang mirip dengan penulisan media cetak. Mulai dari persiapan, proses penulisan sampai penyuntingan. Nah, dengan formula ini, Anda melakukan tahap-tahap yang setara dengan penulisan di media cetak termasuk buku.

Langkah-langkah WtWYT:

1. Awali dengan berpikir (think) apa yang akan ditulis (ingat tujuan tulisan, sudut pandang dan dampak yang diharapkan serta lain sebagainya). Langkah pertama ini semacam proses pra penulisan. Anda harus menyiapkan tema, sudut pandang, dll.

2. Ucapkan apa yang akan ditulis tersebut dengan keras. Pengucapan ini bertujuan untuk memastikan bahwa kalimat tersebut persis seperti yang diucapkan.

3.  Baru tuliskan apa yang Anda ucapkan tadi. Inilah proses penulisan yang sesungguhnya. Dengan formula ini, apa yang akan Anda tuliskan pasti sesuai dengan ucapannya (bahasa lisan). Itulah sebabnya, Anda harus menulis persis seperti ucapan di langkah kedua.

4. Baca lagi, apakah sudah enak didengar. Langkah terakhir ini sama dengan penyuntingan dalam media cetak. Bedanya, dalam WtWYT, Anda harus melakukannya secara bertahap kalimat demi kalimat, tanpa harus menunggu seluruh kalimat tuntas. Sebagian praktisi menyebutnya sebagai Read While You Write. Membaca sambil menulis.

Nah, metode WtWYT ini juga berkaitan erat dengan kecenderungan manusia dalam bertutur. Beda karakternya, berbeda pula cara bertuturnya.

Ada 3 cara manusia bertutur.

1. Memori, diingat-ingat betul, baru kemudian ngomong.

2. Impromptu, dadakan, dipikirkan seketika, baru ngomong.

3. Extemporaneous, tanpa persiapan, ngomong sambil mikir, mikir sembari ngomong.

Dari tiga cara bertutur tersebut, mana yang bisa menghindar dari kesalahan?

Saya yakin jawaban Anda adalah nomor 1, karena sebelum bicara kita mengingat-ingatnya terlebih dahulu. Meskipun bukan jaminan, tapi cara seperti itu lebih baik dibanding cara dadakan atau cara tanpa berpikir.  Formula WtWYT dalam penulisan naskah menunjukkan keberpihakan pada cara bertutur nomor 1.

Ternyata, cara menulis ala orang radio ini cocok juga untuk menulis artikel non telinga, alias buat mata. Untuk dibaca. Pun demikian untuk naskah buku. Bahasa yang muncul dengan cara WtWYT adalah bahasa percakapan sehari-hari. Relatif mengalir dan enak dibaca. Seperti kalimat sakti Majalah Tempo, “Enak dibaca dan perlu.” Gaya bahasa lisan ini berkebalikan dengan bahasa akademik, yang cenderung kaku.

Namun demikian perlu menjadi perhatian khusus terkait siapa pembaca naskah Anda. Kalau pembaca naskah Anda adalah kaum milenial, anak muda, atau masyarakat awam, maka bahasa lisan ini cocok. Jika pembaca Anda golongan yang relatif serius, lebih intelek, apalagi cenderung akademis, maka naskah berbahasa lisan ini, mungkin akan dilempar ke tong sampah.

Berdasarkan pengalaman saya di beberapa penerbit buku populer, ternyata mereka lebih suka bahasa percakapan sehari-hari. Alasannya ya itu tadi, mengalir dan lebih enak dibaca. Para editor di penerbit bekerja keras, agar secara aturan bahasa tetap baik dan tidak ‘terlalu’ menyalahi kaidah. Pilihannya kemudian adalah sesuai kaidah namun kurang enak dibaca, atau sedikit menabrak kaidah tapi disukai khalayak.

Saya pilih tetap sesuai kaidah, namun enak dibaca. Hehe… Karena itulah, saya lebih suka menulis dengan gaya “tulislah seperti cara Anda bicara.” Kalau Anda membaca tulisan saya ini, ya beginilah cara saya bicara.

Semoga seperti menikmati suara penyiar radio ya!

#Disadur dari buku Panduan Terlengkap Menulis Naskah Radio, dengan beberapa perubahan.

Author: dodi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *