BSSN Gelar Pelatihan Literasi Media

Bias dan pelintiran berita begitu marak di media massa mainstream terutama media daring. Sedangkan di medsos, berita bohong (hoax) dan pemutarbalikan fakta (spin) yang jadi rajanya. Plus ujaran kebencian (hate speech).

Itulah fakta yang terjadi saat ini dan membutuhkan pendidikan literasi media untuk membantu mengatasinya. Literasi media bukan obat, bukan pula jurus simsalabim dalam menghadapi gonjang-ganjing di media sosial. Namun, literasi media akan menghambat sebaran berita palsu, bohong, pelintiran, sampai ujaran kebencian dan fitnah. Dengan melek media, maka warga medsos akan lebih kritis dalam menerima setiap pesan di HP-nya, baik yang dikirimkan via website, email, facebook, instagram, whatsapp, atau media lainnya.

Dinamika media sosial yang begitu semarak dalam konotasi negatif, tentu saja mengkhawatirkan banyak pihak, terutama pemerintah. Bagaimana pun, pemerintah punya kewajiban untuk menjaga situasi dan kondisi negara tetap aman terkendali. Media sosial – terutama pada masa pemilu – terbukti ikut serta memengaruhi situasi dan kondisi. Pada sejumlah momentum, pemerintah kelabakan dalam menyikapinya.

Selain pemerintah, sejumlah pihak lainnya pun ketar-ketir dengan perkembangan  media massa, terutama para pengelola media massa arus utama seperti surat kabar konvensional, televisi konvensional dan stasiun radio. Sejumlah hasil riset menunjukkan, pola akses informasi masyarakat mengalami perubahan signifikan. Media sosial menjelma menjadi media arus utama sumber informasi masyarakat. Ternyata, bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di hampir semua negara di dunia. Kolaborasi informasi melalui teknologi siber, menjadi kekuatan baru sekaligus ancaman jika tak dikelola dengan benar.

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) sangat peduli dengan literasi media. Sejak Senin (16 Juli) sampai Jumat (19 Juli 2019), BSSN menyelenggarakan Pelatihan Literasi Media untuk tim inti salah satu direktoratnya. Hadir sebagai pemateri yaitu dari Media Kernell Indonesia, Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indoensia), dan Dodi Mawardi (penulis, mantan wartawan, dan akademisi komunikasi). Selama sepekan, tim inti BSSN mendapatkan gambaran nyata dan utuh tentang literasi media dan peran pentingnya dalam mengatasi gencarnya mal-informasi di media, terutama media sosial.

Kami semua sepakat, era medsos semakin membuka mata kita bahwa literasi media teramat penting untuk bangsa ini. Mau tahu tentang literasi media? Silakan tanya Mbah Google.

Author: dodi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *